Labirin Mimpi yang Luruh
sumber : pinterest Ucapnya lirih, "Akulah satu-satunya wanita, yang menggenggam jemarinya, mengajaknya berlari". "Ke mana?" tanyaku pada sepi. "Entahlah," jawabnya, tak pasti. Mimpi itu serupa debur ombak di pesisir, datang tiba-tiba, lalu lenyap mengusir. Namun aku tetap di sana, keras kepala mencari, mencoba segala cara agar bisa kembali ke malam tadi. Sebab dalam lelap, genggaman itu begitu nyata, membuat khayalku terbang terlalu jauh ke angkasa, hingga pipiku merona, terbakar hangatnya rasa. Bagaimana bisa aku merindukan seseorang, yang jemarinya hanya mengekal saat mataku terpejam? Kini aku terjebak di antara dua ruang; dunia nyata yang asing, dan mimpi yang perlahan padam. Aku mencoba memejamkan mata berkali-kali, memaksa tidur agar malam mengembalikan jemarimu. Namun bantal ini hanya menyerap air mata yang sepi, menertawakan aku yang jatuh cinta pada bayang-bayang semu. Kini fajar menyentakku pada reali...





.jpeg)

