Teru Teru Bozu
Di ambang jendela yang dibasuh lara, kugantung sesajen perca, Teru Teru Bozu yang sungsang, menantang langit agar menumpahkan duka. Aku tak memuja cerah, aku hanya mendamba rintik yang membawa raga, Sebab di dalam bis yang pengap, kaulah satu-satunya oase yang kulihat nyata, Duduk satu kursi di depanku, menjadi detak yang paling rahasia. Lalu waktu menjadi sembilu, memaksaku melipat rindu ke tanah istimewa, Meninggalkan gerbang sekolahmu, tempat mimpiku sempat bertahta. Kukejar deru merah motormu di bawah terik, menyerahkan kotak penuh doa, "Terima kasih telah menjadi jangkar saat jiwaku hampir tak bersuara." Namamu, akhir dari sebuah bab yang kupikir akan selamanya hampa. Tiga musim berganti kulit, aku pulang membawa langkah yang lebih dewasa, Menapaki selasar kampus yang menyimpan gema dari masa yang tersiksa. Kudengar tawa pecah di sela loker tua, menceritakan gadis kecil dan boneka kusamnya, Tentang seseorang yang mencintai hujan hanya agar bisa mencuri pandang darinya, T...

