Di Jalan Pulang yang Tak Berujung
Malam ini langit tampak tenang, tapi hatiku tidak.
Ada sesuatu yang kosong di antara bintang-bintang, seperti jeda doa yang tak
lagi dijawab.
Aku menulis surat ini bukan untuk dikirim,
karena aku tahu alamatmu kini bukan lagi di bumi.
Tapi barangkali angin malam bisa membawanya sampai,
ke tempat di mana kau beristirahat dengan damai,
di bawah cahaya yang tak pernah padam.
Aku ingin bercerita, Pah seperti dulu,
tentang hari-hari kecil yang kini hanya hidup di kepalaku,
tentang suara tawa yang dulu jadi rumah,
dan tentang aku,
yang masih belum tahu bagaimana caranya pulang tanpamu
Pah…
Ada senja yang tak lagi jingga sejak langkahmu berhenti di tepi waktu.
Langit seperti kehilangan arah,
dan aku anak perempuanmu masih memungut serpihan suaramu di antara desir angin
sore.
Dulu,
kau ajari aku membuka toples bukan dengan tenaga,
tapi dengan sabar yang lembut seperti doa di subuh hari.
Kau ajari aku jatuh dari sepeda tanpa malu,
karena tanah pun, katanya, diciptakan agar manusia belajar berdiri lagi.
Sekarang, Pah…
Semua benda menyimpan gema tentangmu:
Toples kaca yang sunyi di dapur,
sepeda berdebu di bawah jendela,
kasur yang masih menyimpan bentuk tubuhmu di udara.
Aku bicara dengan waktu,
meminta ia berhenti sesaat
agar aku bisa menatapmu sekali lagi tanpa terburu-buru.
Tapi waktu selalu angkuh,
ia menatapku dengan mata hampa dan berjalan tanpa menoleh.
Pah…
Aku sering merasa seperti daun kering
yang tak tahu diembus angin ke mana.
meski aku berusaha kuat,
tapi kekuatan itu sering larut di bawah hujan malam.
Mereka bilang:
rindu itu ujian yang paling sunyi,
karena hanya bisa dijawab dengan air mata yang tak bersuara.
Kini setiap kali aku menatap langit,
aku berpura-pura berbicara padamu.
Kupanggil namamu dalam hati,
dan burung-burung yang melintas
menjadi perantara doa yang tak pernah selesai.
Aku belum pandai melepaskanmu,
karena namamu masih bersemayam di sela-sela degup jantungku.
Aku belum pandai mengganti “ada”-mu dengan “kenangan”,
karena kau masih hidup di dalam setiap jeda napas yang kupanjatkan dalam doa.
Pah,
aku masih di sini,
masih belajar memahami kehilangan
sebagai bentuk lain dari cinta yang tak selesai.
Selamat Hari Ayah, salam rinduku untukmu disana
Komentar
Posting Komentar