berkecimuh samar
ternyata rasa pahit masih ada
menyelinap seperti embun yang tak pernah benar-benar jatuh,
menggantung di udara, menunggu celah
untuk kembali melukai.
padahal kerangkanya sudah meleleh menjadi debu,
diterbangkan oleh angin yang tak punya kesetiaan,
hilang tanpa bentuk, tanpa arah.
namun entah mengapa sisa-sisanya
masih menggerogoti dinding dadaku
seperti waktu yang enggan berhenti berdetak.
siapa yang memberi jalan
pada igauan itu untuk kembali?
padahal batasnya sudah kusekati,
kularang, kututup,
tapi ia lolos seperti bayang-bayang
yang tak mengenal aturan cahaya.
malam memanjang tanpa belas kasih,
berjalan bersama angin yang pecah suaranya,
berkecimuh seperti bisikan
yang memohon untuk didengar namun tak ingin dipahami.
ia menabrak ruang kamar,
menggores udara,
mencari celah yang belum waktunya terbuka.
sampai akhirnya gelap
menggulung seluruh detik yang tersisa.
ada sesuatu yang bangkit
dari sela-sela dingin lantai,
menarik perhatianku
tanpa berniat menampakkan diri.
sebuah tanda, mungkin.
atau sisa-sisa mimpi
yang berbalik menuntut pemiliknya.
di sudut kamar,
ada bayang yang menua sebelum waktunya—
tidak bergerak,
tidak hidup,
namun terlalu sadar untuk disebut mati.
ia seperti sedang menghafal bentukku,
menyimpan sesuatu
yang tidak pernah kuberikan.
angin yang menembus celah jendela
membawa aroma asing,
bau rahasia yang sudah lama dikurung
di bawah lapisan sunyi.
ia menyentuh kulitku
seperti pesan yang ingin dibaca
tanpa ingin dipahami.
dan tiba-tiba aku tahu:
yang pahit itu bukan rasa,
melainkan pintu.
pintu yang kubiarkan setengah tertutup,
dan kini seseorang atau sesuatu
mengetuknya dengan kesabaran yang mengerikan.
yang samar tak pernah pergi,
ia hanya berbaring di balik lipatan waktu,
menunggu sampai aku lengah.
menunggu sampai aku lupa
di mana terakhir kali aku menyembunyikannya.
miftahalfiahh
Komentar
Posting Komentar