nama yang memudar



Hi… begitu katanya,

 dengan suara yang lemah, 

seakan berbicara pada ruang yang sudah tidak mengenalnya lagi. 

Tidak ada jawaban hanya udara yang lewat,

 menggeser kesunyian tanpa sengaja. 

Sudah lama ia tidak bercerita, 

ia hanya memandang daun-daun yang jatuh seperti tanda dari langit yang menua karena rahasia. 

Tidak jelas apakah ia sedang menunggu, 

atau hanya tersesat dalam pikirannya sendiri. 

Orang-orang bilang mungkin hanya dia yang masih menyimpan kekhawatiran di balik gerakan tubuh yang terlihat biasa. 

Ia yang membaca tanda-tanda yang tak pernah ditulis untuknya. 

Ia yang menafsirkan kepergian bahkan sebelum pintu benar-benar tertutup. 


apakah sama? 

Tentu, tidak mungkin sama.

 Dunianya tetap berputar, 

namun langkahnya tertinggal di suatu tempat yang namanya sudah ia lupa. 

Pagi tetap cerah, 

tapi dadanya seperti kamar kosong yang dipenuhi suara tangis yang tak tahu dari mana asalnya. 


“Ke mana dia?” 

Pertanyaan itu kadang muncul,

 kadang menghilang begitu saja,

 seperti asap dari mimpi yang belum selesai. 

Mungkin sosok itu sudah pindah rumah, 

atau mungkin hanya singgah sebentar di hidupnya yang terlalu sunyi. 

Ada yang berkata: “mungkin ceritanya memang tidak dimaksudkan untuk dibawa siapa pun, selain dirinya sendiri.”

Dan akhirnya, ia hanyalah nama yang perlahan memudar di buku yang tak lagi dibaca.


-miftahalfiah

Komentar

Postingan Populer