Teru Teru Bozu
Di ambang jendela yang dibasuh lara, kugantung sesajen perca,
Teru Teru Bozu yang sungsang, menantang langit agar menumpahkan duka.
Aku tak memuja cerah, aku hanya mendamba rintik yang membawa raga,
Sebab di dalam bis yang pengap, kaulah satu-satunya oase yang kulihat nyata,
Duduk satu kursi di depanku, menjadi detak yang paling rahasia.
Lalu waktu menjadi sembilu, memaksaku melipat rindu ke tanah istimewa,
Meninggalkan gerbang sekolahmu, tempat mimpiku sempat bertahta.
Kukejar deru merah motormu di bawah terik, menyerahkan kotak penuh doa,
"Terima kasih telah menjadi jangkar saat jiwaku hampir tak bersuara."
Namamu, akhir dari sebuah bab yang kupikir akan selamanya hampa.
Tiga musim berganti kulit, aku pulang membawa langkah yang lebih dewasa,
Menapaki selasar kampus yang menyimpan gema dari masa yang tersiksa.
Kudengar tawa pecah di sela loker tua, menceritakan gadis kecil dan boneka kusamnya,
Tentang seseorang yang mencintai hujan hanya agar bisa mencuri pandang darinya,
Ternyata, kisah yang kukira terkubur, masih kau pelihara dalam ingatan yang baka.
Boneka putih itu luruh ke bumi, berguling tepat di hadapan kakiku yang kaku,
Membangunkan hantu-hantu kenangan yang selama ini kupasung dalam kalbu.
Kau terpaku, menatap seraut wajah yang kini tak lagi mengenakan seragam biru,
Menyadari bahwa doa yang kugantung terbalik kini menjelma menjadi temu,
suaramu membelah sunyi, mengikat kembali benang yang sempat layu.
Lalu langit mengirimkan restunya, rintik turun membasuh canggung yang meraja,
Mencairkan kebekuan di antara dua jiwa yang pernah dipisahkan samudra.
Senyummu masih serupa senja, manis dan menenangkan segala lara yang ada,
Bahwa cinta pertama bukanlah tentang memiliki, tapi tentang jalan untuk kembali,
Dan di lorong universitas ini, hujan kita tak lagi sekadar dongeng yang mati.
Miftah Alfiah
Komentar
Posting Komentar