"Peran Pelatihan Instruktur Dasar dalam Mencetak Kader Immawati dan Immawan yang Berkualitas"

Perkenalkan, nama saya Miftah Alfiah. Saya ingin berbagi kisah tentang pengalaman luar biasa yang tak akan saya lupakan, yakni saat mengikuti Pelatihan Instruktur Dasar (PID) yang diselenggarakan oleh PC IMM Jakarta Timur.

Mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya ketika saya bergegas berangkat dari rumah pukul 05.30 pagi. Dengan penuh semangat, saya menempuh perjalanan menuju Fakultas Bisnis UHAMKA menggunakan Transjakarta. Saya pikir, perjalanan satu setengah jam cukup untuk membuat saya terlambat hadir pada saat pembukaan, oleh karena itu saya memutuskan lebih awal dalam pemberangkatan, namun memang belum dimulai. Ada kendala yang membuat pembukaan baru dimulai pukul 10.00. Meski sempat menanti, tak sedikit pun semangat saya pudar. Bersama tujuh rekan seperjuangan dari PK IMM FKIP UHAMKA, saya merasa begitu antusias untuk memulai perjalanan empat hari yang penuh makna. Dalam benak saya, pertanyaan-pertanyaan berkelebat: Bagaimana pelatihan ini akan berjalan? Apakah saya mampu melewatinya? Apakah akan sesulit yang saya bayangkan? Namun, seiring waktu, semua ketakutan itu perlahan luruh. Saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai komisariat dan cabang, dari Jakarta Pusat hingga Jakarta Selatan. Kami saling mengenal, bekerja sama, dan berkomitmen untuk menyelesaikan pelatihan ini dengan sebaik mungkin.


Di hari pertama, kami mengawali dengan kontrak belajar, sebuah kesepakatan untuk menjaga kedisiplinan dan komitmen selama pelatihan. Kami pun memilih ketua peserta, yang disebut Abang dan None. Dari sesi ini, saya menyadari bahwa kedisiplinan adalah kunci utama. Tidak ada yang akan terus-menerus mengingatkan kami untuk hadir tepat waktu atau mengikuti setiap sesi dengan sungguh-sungguh—semua kembali pada bagaimana kami mengatur diri sendiri. Malam menjelang, kami berpindah lokasi ke Rumah Yatim dan Tahfidz Muhammadiyah Pecahan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Perjalanan dengan bus kampus terasa begitu menyenangkan meskipun kami harus menghadapi sedikit kendala di jalan. Sesampainya di lokasi, suasana baru menyambut kami dengan kehangatan yang tak terduga.


Hari kedua dan ketiga berjalan begitu cepat. Kami sibuk membagi waktu antara setoran hafalan, tugas-tugas yang harus dikumpulkan tepat waktu, serta sesi-sesi materi yang begitu padat. Namun, kelelahan tak mampu mengalahkan semangat kami. Kami disuguhkan pembahasan tentang perkaderan, bagaimana membimbing kader dengan baik, hingga memahami psikologi kader agar dapat menjalankan perkaderan yang lebih efektif. Saya menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggantung dalam benak saya. Mengapa perkaderan begitu penting? Bagaimana cara merancang sistem yang ideal? Semua itu terjawab dalam diskusi yang penuh dinamika dan interaksi. Setiap subuh, ada momen spesial yang membuat saya semakin mencintai proses ini. Juga terdapat sesi Role Play bagaiamana kita meraskan menjadi Instruktur sesuai dengan tugas nya masing masing, cukup menarik metode ini, dan juga memberian kesan yang tidak terlalu tegang namun tetap dituntut untuk serius dan tetap tegas, kebetulan saya terdaat pada kelompok 2 dan menjadi MOT, memang mash banyak evaluasi yang saya dapatkan, semoga kedepannya saya bisa belajar lebih baik. Kami mengadakan kajian bersama, mendiskusikan ayat-ayat suci yang telah ditentukan, meresapi maknanya, dan mengaitkannya dengan peran kami sebagai kader. Ada kehangatan dalam kebersamaan ini, sebuah rasa persaudaraan yang tumbuh semakin erat. Saya belajar bahwa perkaderan bukan sekadar teori, tapi juga tentang jiwa yang terus tumbuh dan ingin memberi manfaat.


Lalu tibalah hari keempat, hari terakhir yang terasa begitu cepat datang. Pagi itu, kami memulai hari dengan senam bersama di rooftop. Langit Jakarta yang biru seakan ikut merayakan semangat kami. Haru mulai menyelinap dalam hati, menyadari bahwa kebersamaan ini akan segera berakhir. Setelah itu, kami menyelesaikan tugas utama kami, yakni mengevaluasi grand design pengkaderan. Diskusi berlangsung penuh antusias, dengan para instruktur yang begitu sabar menjawab setiap pertanyaan. Saya pribadi sangat bersyukur mendapatkan pemahaman baru, terutama dari Kak Syifa, yang dengan jelas menjabarkan strategi dan alur pengkaderan.

Setelah sesi evaluasi, kami mengemas barang-barang, membersihkan ruangan, dan makan bersama untuk terakhir kalinya dalam pelatihan ini. Penutupan terasa begitu emosional. Senyum, tawa, bahkan sedikit air mata mewarnai sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan dari perjalanan yang penuh makna ini. Mengikuti Pelatihan Instruktur Dasar bukan hanya tentang menambah wawasan, tetapi juga tentang menempa diri, memperkuat mental, mendisiplinkan waktu, dan mengasah kemampuan komunikasi serta kepemimpinan. Saya merasa bersyukur menjadi bagian dari perjalanan ini. Bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai latar belakang, berdiskusi, bertukar pikiran, dan saling menguatkan adalah pengalaman yang begitu berharga.

Saya belajar bahwa sesuatu yang tampak sulit sebenarnya bisa kita lalui jika kita mau berusaha. Bahwa dalam setiap perjuangan, selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Bahwa pengkaderan bukan hanya tentang proses, tetapi juga tentang komitmen untuk terus tumbuh dan berkontribusi bagi IMM dan masyarakat.

Saya pulang dengan hati yang penuh. Penuh dengan pengalaman, ilmu, dan semangat baru. Saya tahu, perjalanan ini mungkin telah usai, tetapi langkah saya dalam mengabdi dan berkembang baru saja dimulai.


Komentar

Postingan Populer