si riuh

 


hey, kawan?

suara itu dulu pernah gagah,

menyembur dari dada

yang kau isi dengan terang yang tak pernah kau akui.

kini ia hanya gema samar

yang tak lagi tahu dari mana ia dilahirkan.

aku bertanya, diam-diam,

tentang rindu yang tak mau mati


ia berkeliaran seperti bayang tua

yang lupa pada tubuh asalnya.

berapa lama lagi kau biarkan aku

menjadi halaman yang sengaja tidak kau baca,

namun tak juga kau koyak?

aku takut memanggilmu kembali;

takut kau menari dengan keterpaksaan

yang menggema di balik kerumunan

yang tak punya mata untuk mengenalmu.

aku pun sudah lupa caraku retak

di hadapanmu

segala rengeku kini terkubur

di bawah tanah yang tak ingin kubuka lagi.

lucu, ya?

tidak.

amarahku tidak berteriak;

ia merayap, seperti kabut

yang tahu betul cara menutup dunia

tanpa membuat siapa pun sadar

bahwa mereka sedang kehilangan cahaya.

kau pergi,

tanpa berpamitan pada angin di pundakku.

aku hanya menjadi serpih

yang melayang tanpa kompas

di malam-malam yang bahkan bulan pun

tak hendak menoleh.

puisi ini kuberi tanda rahasia,

bukan ancaman, bukan luka.

hanya isyarat kecil

bahwa ada sesuatu yang masih mengetuk

di dalam diriku,

walau pintunya tak lagi aku hafal.

kau pernah jadi obat diam

yang tak pernah benar-benar kuminum,

tapi tetap kucari

setiap kali virus gelap itu

mengendus bahuku

mengejarku seperti ia tahu

bahwa aku terlalu rapuh

untuk bersembunyi.

mungkin nanti,

jika aku lelah melarikan diri,

aku akan berdamai

dengan virus itu:

sang bayang yang membunuh

tanpa suara,

tanpa rasa,

tanpa menuntut penjelasan.

ayolah…

aku masih merindumu

dengan cara yang bahkan

diriku sendiri tak bisa jelaskan.

ini bisikan terakhirku,

sebelum aku memilih diam

yang lebih setia daripada siapa pun

yang pernah kupanggil kawan.

Komentar

Postingan Populer