“Di Antara Aku yang Tak Bernama”

Miftah Alfiah

Kenyataan hanyalah bayang yang menua di cermin,
aku menatapnya tanpa benar-benar tahu,
siapa yang berdiri di seberang bening itu.

Dunia tampak berputar, namun tidak untukku,
ia sibuk menari di porosnya sendiri,
sementara aku, debu yang terlepas dari orbit,
belajar diam agar tak lagi jatuh.

Mereka berjalan, membawa waktu di genggamannya,
dan aku hanya membawa sunyi yang menua di dada.
Barangkali pelukan bukan untuk setiap jiwa,
sebab beberapa manusia ditakdirkan
menjadi langit yang hanya memeluk dengan tatapan.

Aku pernah percaya pada hangat yang singgah,
tapi ternyata itu hanya cahaya yang mampir
sebelum malam datang memadamkannya.

Kini aku berbicara pada gema yang tak menjawab,
menulis surat pada angin,
dan membiarkan luka menua dengan tenang.

Barangkali memang tak ada yang tertinggal,
hanya aku yang terlalu lama berdiri di tempat yang sama
menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi,
dan tak pernah benar-benar kembali.

 

Komentar

Postingan Populer