Fragmen Rasa dalam Senyap

 Di sudut perpustakaan yang beku oleh debu,

mataku mencuri bayangmu di balik lembar buku.

 kau adalah rasi bintang yang terlalu jauh untuk dipetik,

namun terlalu benderang untuk sekadar kusebut titik.

Aku melihatmu di bawah guyuran langit yang luruh,

memainkan korek api, namun apinya tak kunjung tumbuh.

Katamu, hujan adalah cara terbaik untuk bersembunyi,

bagi jiwa-jiwa yang lelah berpura-pura dalam sepi. 


Di jembatan tua tempat rahasiamu kau simpan,

kau menghitung bintang yang hilang dari ingatan.

Ada duka tentang kakak yang pergi tanpa lambaian,

meninggalkanmu tenggelam dalam sungai penyesalan.

Aku menggenggam jemarimu yang sedingin es,

mencoba membasuh luka yang tak kunjung beres.

Sebab jika seseorang pergi, bukan berarti kau harus sirna,

kau masih di sini, nyata dalam degup yang berwarna.


Malam itu, kau melukis janji di bawah cakrawala,

mengakui rasa yang selama ini kau simpan dalam jala.

Duniaku berhenti, waktu seakan memilih untuk membeku,

saat kau katakan bahwa kau juga menyukaiku.


Namun...

Suara alarm memecah balai-balai mimpi yang indah,

menyadakanku pada realita yang tak lagi searah.

Kau tetaplah langit senja yang tak sanggup kugenggam,

sebuah memori yang hidup dalam tidurku yang kelam.


Kini aku berdiri di ambang fajar yang baru,

mengetik pesan singkat dengan jemari yang ragu.

Mungkin ini akhir yang harus aku terima dalam hening,

atau awal dari takdir yang baru saja bergeming.

"Hei, Rey. Lagi sibuk tidak?"

Hanya itu yang berani kukirim ke duniamu yang luas,

sebelum rindu ini kembali tertelan waktu yang tak berbalas.


puisi ini kuciptakan dari lahirnya cerpen yang berjudul "Lara Hati"

selamat membaca 


Miftah Alfiah

Komentar

Postingan Populer