Gema yang Tertinggal di Desa
Di bawah nisan aksara yang kau abai dalam alfa,
aku melarung debar purba ke palung atma.
Warkah itu kini menjelma suksma yang menyusup di saku jubahmu,
merayap sesunyi halimun, menyesap sisa retak di dermaga ragamu.
Kau adalah pemegang kunci dari gerbang yang sengaja kupenjara,
sebuah paradoks antara damba untuk diketemukan dan niscaya mencuri hampa.
Aku menyemai namamu di akar beringin tua, saksi bisu petak umpet yang fana,
agar tiap desau bayu menjadi elegi rintihan yang paling rahasia.
"Adakah kau mencecap igauan di balik kulit kayu yang merapuh itu?"
Itulah aku, yang memujamu dalam wujud bisu yang membatu.
Kini kita terpaku di titik nadir yang serupa, namun dalam lintasan semesta yang cedera,
dipersatukan oleh takdir yang terlambat mengeja baris-baris doa.
Engkau laksana fatamorgana yang menetap dalam dekap yang tak lagi tertutup,
namun sang waktu telah mematahkan anak kunci, saat fajar kita baru saja menyulup.
Kita adalah dua jiwa yang akhirnya saling menanggalkan topeng,
hanya untuk tersungkur pada kenyataan bahwa dunia tak lagi memberi ruang untuk berbonceng.
Lalu jemarimu meraba serat kusam itu surat yang baru kau jamah setelah sekian lama,
menggetarkan seluruh sesal yang selama ini kita pasung di balik atma.
"Inilah kidung asmara sulung yang pernah kurengkuh," bisikmu di bawah langit yang meluruh,
suaramu pecah bagai porselen tua, membawa gema dari masa kecil yang jauh.
Dan aku tersadar, rarik tulisan itu adalah satu-satunya jembatan yang tak runtuh,
di kala raga tak lagi sanggup melangkah lebih jauh dari sekadar tatap yang keruh.
Biarlah padang ini, balai desa ini, dan saksi pohon tua yang meranggas,
menjadi mausoleum abadi bagi kita yang tak mungkin lagi bersemi dengan tangkas.
Sebab ada cinta yang memang ditenun bukan untuk dikenakan raga,
melainkan untuk bertahta di singgasana sunyi suci, jauh dari hiruk-pikuk dunia.
Kita dipersatukan hanya untuk saling melepas dalam hening yang baka,
menjadikan desa ini sebuah fragmen indah yang terkunci di relung sukma.
Miftah Alfiah
Komentar
Posting Komentar