DUHAI REMBULAN
Rembulan itu selalu tampah utuh,
dingin,
tenang,
tak tersentuh,
ia menggantung di langit..
seperti tak pernah membutuhkan bumi..
cahayanya cukup untuk dilihat,
namun tak pernah cukup untuk didekati..
Tak ada yang tahu..
Bahwa dingin adalah caranya bertahan..
Bahwa jarak adalah pagar,
yang ia bangun dari luka-luka lama.
Malam mengenalnya sebagai cahaya,
angin mengenalnya sebagai diam.
Dan ia membiarkan dunia percaya,
bahwa ia tak pernah goyah.
Namun suatu waktu, tanpa petir, tanpa tanda..
cahayanya bergetar tipis..
bukan redup..
bukan pula lebih terang..
hanya.. berbeda..
Ada hangat yang tak terlihat, tersembunyi di balik sinar pucatnya.
Seperti rahasia..
yang enggan disebutkan..
namun tak bisa disangka..
Rembulan itu masih tinggi.
Masih dingin bagi yang memandangnya sekilas..
Namun bagi langit cukup sadar, ia tahu... cahaya itu.. tak sepenuhnya beku.
Dan mungkin..
ia sendiri pun tak menyadari..
sejak kapan..
ia mulai menunggu..
Miftah Alfiah
Komentar
Posting Komentar