Labirin Mimpi yang Luruh
Ucapnya lirih, "Akulah satu-satunya wanita, yang menggenggam jemarinya, mengajaknya berlari".
"Ke mana?" tanyaku pada sepi.
"Entahlah," jawabnya, tak pasti.
Mimpi itu serupa debur ombak di pesisir,
datang tiba-tiba, lalu lenyap mengusir.
Namun aku tetap di sana, keras kepala mencari,
mencoba segala cara agar bisa kembali ke malam tadi.
Sebab dalam lelap, genggaman itu begitu nyata,
membuat khayalku terbang terlalu jauh ke angkasa,
hingga pipiku merona, terbakar hangatnya rasa.
Bagaimana bisa aku merindukan seseorang,
yang jemarinya hanya mengekal saat mataku terpejam?
Kini aku terjebak di antara dua ruang;
dunia nyata yang asing, dan mimpi yang perlahan padam.
Aku mencoba memejamkan mata berkali-kali,
memaksa tidur agar malam mengembalikan jemarimu.
Namun bantal ini hanya menyerap air mata yang sepi,
menertawakan aku yang jatuh cinta pada bayang-bayang semu.
Kini fajar menyentakku pada realitas yang sunyi.
aku tersadar, ini hanya khayal yang bersembunyi.
Meski jauh di dasar hati, aku tetap berdoa pasrah,
mengapa bangun harus memisahkan kita yang hampir searah?
Sebab di dunia nyata, tanganmu tak pernah bisa kuraih,
dan aku kembali menjadi asing,
yang memeluk rindu dengan perih.
Karya : Miftah Alfiah
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar