Genggaman Dua Sisi

sumber : pinterest


Digenggamnya kaktus dan melati beriringan,
seolah abai jemarinya akan terluka.
Yang satu ranum menyisakan kelembutan,
yang satu kokoh menantang dunia.

Yang satu menguar wangi dalam sunyi,
yang satu bertahan di bawah terik yang tak bertepi.
Berbeda rupa, berbeda cara bertahan,
namun sama-sama lahir dari keteguhan kehidupan.

Keduanya menyimpan duri yang menyengat,
saling berbenturan, menolak rekat.
Menyatukan mereka adalah kemustahilan yang kasat,
sebuah kemungkinan kecil yang teramat pekat.

Barangkali, bukan takdir yang keliru mempertemukan,
melainkan waktu yang belum selesai mendewasakan.
Sebab setiap luka memiliki bahasanya sendiri,
dan setiap hati belajar mencintai tanpa harus memiliki.

Namun, bukankah "mustahil" hanya butuh waktu?
Sebuah proses panjang yang menempa laku.
Hari demi hari, ego perlahan luruh,
prasangka gugur, keyakinan pun tumbuh.

Bukan untuk saling menjatuhkan dalam banding,
bukan pula memaksa serupa agar terasa seimbang.
Melainkan saling menjaga dalam perbedaan yang hening,
bertumbuh selaras, erat berdamping.

Sebab harmoni tak pernah lahir dari kesamaan semata,
melainkan dari keberanian menerima yang berbeda.
Kaktus tetap tegak dengan segala durinya,
melati tetap mekar dengan segala wanginya.

Hingga dunia tak lagi melihat siapa yang paling dicari,
atau siapa yang lebih layak dipuji.
Sebab dalam satu genggaman yang tulus menanti,
keduanya adalah harmoni.

Bukan saling menghapus jati diri,
melainkan saling melengkapi.
Seperti langit dan bumi yang tak pernah menjadi sama,
namun selalu setia menyempurnakan semesta.

Dan pada akhirnya,
bukan kaktus yang berubah menjadi melati,
atau melati yang kehilangan harumnya demi berdiri.
Melainkan keduanya menemukan arti:
bahwa cinta tak selalu meminta menjadi serupa,
cukup saling menerima.

Sebab di antara duri, wangi, luka, dan keteguhan hati,
terpilihlah satu kesimpulan yang tak lagi perlu dicari
dalam genggaman itu,
keduanya adalah harmoni,
pilihan terbaik yang melengkapi jemari.

Dan jika kelak kau bertanya,
mengapa aku tak pernah melepaskan salah satunya,
jawabannya sederhana:
aku telah belajar bahwa cinta bukan memilih yang paling indah,
melainkan bertahan bersama yang bersedia bertumbuh.

Maka biarlah aku menjadi jemari itu
yang rela tertusuk duri,
asal tetap dapat menggenggam wangi.
Sebab bagiku,
kaktus dan melati bukan lagi dua hal yang saling meniadakan,
melainkan dua nama yang mengajarkanku
bahwa perbedaan pun mampu menjadi rumah,
dan aku memilih tinggal di dalamnya.

Karya : Miftah Alfiah

Komentar

Postingan Populer